Sunday, 14 August 2016

Rotan

Dari roman wajahnya, saya bisa menangkap kekagetan Alfin, murid saya di kelas tiga. Hari ini, saya memintanya mencari batang bambu (di sini sering disebut rotan). Rotan masih menjadi salah satu momok bagi para siswa di sini sebab seringkali kesalahan kecil mereka, yang sesungguhnya khas anak-anak, mesti diganjar sabetan benda itu. Barangkali Alfin mengira saya akan memukulnya atau memukul teman-temannya karena tidak tertib di dalam kelas. Dengan takut-takut, Alfin menyerahkan beberapa batang rotan yang ditemukannya di halaman depan kelas.

Usai menerima rotan, saya meminta Alfin untuk lekas duduk. Suasana kelas saat itu amat gaduh. Anak-anak mungkin belum puas bermain saat istirahat tadi.

"Yang dengar suara Ibu tepuk tangan tiga kali!" seru saya memberi sinyal, mencoba menarik perhatian anak-anak.

Setelah kelas reda dari keriuhan, saya memulai pelajaran.

"Anak-anak, sekarang katong belajar SBK. Anak-anak su tahu SBK toh?" kataku basa-basi.

"Tahu, Ibu! Tahu, Ibu! Seni Budaya dan Keterampilan, Ibu!" mereka menjawab serempak. Kompak.

"Nah, hari ini katong mau ada pertunjukkan nyanyi. Tapi anak-anak seng bernyanyi sendiri. Kamong bernyanyi sama-sama satu grup. Setiap grup ada empat orang," saya menjelaskan.

Saya lanjut bertanya sembari mengangkat rotan, "Anak-anak tahu ini apa?"

"Rotan, Ibu."
"Bambu, Ibu."
"Kayu, Ibu."

"Iya, betul. Ini batang bambu. Tapi sekarang batang bambu ini berubah menjadi ....," aku menggantung penjelasanku dan menirukan gaya pemain gitar.

"Gitar, Ibu!" anak-anak menebak kompak.

"Pintar!" kataku. Aku lalu mengangkat batang bambu lain dan menyulapnya menjadi mic sang vokalis, biola, serta stik drum. Sementara mejaku berubah menjadi keyboard.

"Wih, jelas, Ibu! Jelas!" anak-anak antusias melihat aktingku.

Dan jadilah hari itu aku menemukan bakat-bakat baru anak-anakku. Ada yang malu-malu memetik gitar, ada yang tak ragu menggenjrengnya bagai rockstar. Ada yang menekan tuts keyboard layaknya keyboardis kawakan, ada pula sebaliknya. Ada yang takut-takut memegang mic dan ada juga yang gayanya bak biduan dengan jam panggung tinggi.

Bagiku, kelas hari itu seru. Dan... amat melelahkan haha. Anak-anak belum paham soal menghargai teman yang sedang tampil di muka kelas sampai-sampai ada yang menyerobot "panggung". Beberapa merajuk karena ingin tampil lebih dulu, belum paham tentang bersabar. Duh, pokoknya repot dan ribut. Tapi menurut saya, itulah konsekuensinya memberi ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan berimajinasi, mereka seringkali semakin tak terkendali. Dalam hati, saya amat berharap, semoga di kelas tadi anak-anak dapat pelajaran agar berani, saling menghargai dan bersabar.



Keterangan:
- katong: kita
- su: sudah
- seng: tidak
- kamong: kalian
- jelas: keren, bagus, hebat

Adaut, 2 Desember 2015

Flashback

Adaut, 4 March 2016



Inside the speed boat on our way from Adaut to Saumlaki. Fita (middle) and Yuni (right) are going to participate in Olimpiade Sains Nasional (OSN) MTB Regency level this afternoon.

Like a flashback to when I was an elementary student. My favorite teacher ever, Pak Henhen, used to accompany me whenever I join competitions. He taught me the hardest, motivated me the best, and was the first person who congratulated me when I won or cheered me up when I lost. I always remember he said, competition is not merely about winning or losing, it is a chance to experience many things: how to be a real fighter, how to be thankful.

And who ever wonders, I'm now having students (this never crossed in my mind) and making such memory with them. So then, let us make a good one. Wish us luck!



P. S. I am going to write the full-story of this story hehehe. Soon!

Saturday, 13 August 2016

Danke, Geng!

Rangkasbitung, June 29th, 2016

A year ago, when we just knew each other's full name, we were destined to be deployed as a team in one of this country's most isolated area. In the last one year, we might not look alike and we might not sound alike, but we did alike on supporting each other from the very beginning until the end and that was what actually counts.
The good, the bad, the best, the worst, the ugly, we have through them all and turns out we're still friends. The program has finally come to an end but never for our brotherhood, our friendship. I hope we can always make room for each other in our crowded busy lives ahead.
See you on top! Thank you for a very thoughtful one year and still counting.

Left to right: Dije, Tasya, Indah, Julian, Ika, Me, Shandy. Pengajar Muda X Indonesia Mengajar - Maluku Tenggara Barat.


Wednesday, 24 September 2014

Hi there

It's been a while since I posted on this blog last July. So many things happened, anyway. I graduated (finally). I went to Brunei and back to this lovely home already. I traveled lots (enough-to wash away my cash and savings). I am broke. And unemployed. Hahaha. Please do pray for me, I am now seeking for a job which fits my passion (ceilah...), my future vision, and my need of financially secured. Do I have to start seeking for my partner for life, too? Wkwkwk.

As long as I remember, I have been trying several times to write on this blog. As I mentioned, so many things happened and are really worth-to-post. But somehow, all the trials end up with blank page (plus blink cursor) all over again.

Tonight, this damn good internet connection at home has successfully enabled me to wander around bunch of posts (of mine, my friends', even some of I-don't-know-who-they-are). I can open hundred pages without loading or buffering. I have explored till the oldest of oldest, maybe ancient, post on blogs, Facebook, Twitter, and whatever I clicked hahaha. The writings, the pictures, the videos, the songs. Everything. It was like rediscover my self. Who am I in the midst of some other people's lives. 

I don't know why, something about past is always appealing for me. I don't say that future is not appealing. Or present is boring (well, sometime it is). But, don't you agree that past always has its attractiveness? Several things in the past can clearly be understood. Yet some definitely can't be, and is better left being mystery. Maybe, just maybe, past attracts me with its certainty and uncertainty altogether. Now it seems like I should be careful not to get stuck in nostalgic space (like Raisa). Wkwkwk don't worry. The "irreplaceable present" and the "challenging future" can always attract me more so that I never forget to live now and move on. Oh well, I myself can't get my point.

So, to prevent this from getting more blurry and nowhere-to-go, I should finish asap. Hi there, I actually just want to write this: I really miss you after seeing you around, there in my wandering time.




Wednesday, 16 July 2014

Thank You!

This post contains the most of the most important part in my undergraduate thesis. Since I ain't so sure, one (especially those are mentioned here) will read my thesis in the future (hahaha), through this post I'd like to express my sincere thanks to everyone listed below (I know even the biggest thanks will never be enough, though). 


UCAPAN TERIMA KASIH

Saya memulai perjalanan ini atas kehendak saya sendiri, namun saya mampu menyelesaikannya atas pertolongan dari banyak pihak. Saya tentu ingin menghaturkan terima kasih kepada berbagai pihak.
  1. Teruntuk Dr. Donna Asteria, S.Sos, M.Hum, saya berterima kasih atas segala kebaikan dalam berbagi pengetahuan. Terima kasih telah demikian sabar dalam membimbing dan senantiasa mengingatkan saya untuk menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Saya merasa sangat beruntung, Mbak! Semoga saya tidak mengecewakan Mbak Donna.
  2. Drs. Awang Ruswandi, M.Si selaku penguji ahli dan Dra. Rosy Tri Pagiwati, MA sebagai ketua sidang, terima kasih banyak atas kritik dan masukan yang bermanfaat untuk perbaikan skripsi ini.
  3. Program S1 Reguler Departemen Ilmu Komunikasi, seluruh dosen dan staf administrasi di dalamnya—khususnya dosen-dosen Jurnalisme, terima kasih untuk ilmu pengetahuan selama saya menempuh pendidikan di sini, Bang, Mas, Mbak!
  4. Teristimewa untuk keluarga tersayang yang selalu menjadi paling pertama saya sebut dalam doa: Mamah Euis dan Bapak Jumhedi—orang tua sekaligus guru teladan yang mencontohkan pentingnya pendidikan sepanjang masa, Teteh Putri, serta adik-adik: Aa Puji, Ade Puja, Neng Ayu, Raja, Inu. Terima kasih pun tak akan pernah cukup.
  5. Mira Natasya Aulia Siregar dan Ricky Alexander Samosir. Terima kasih atas keriangan dan keceriaan yang senantiasa dibagi.
  6. “The Aculs”: Yuthi Fatimah, Syifa Sakinah, Aisyah Khairunnisa, Issha Harruma, dan Christie Tiarmalia, terima kasih. Akhirnya kita resmi bergelar Sarjana Sosial(ita), bukan “anak culuns” lagi! Hahaha.
  7. Untuk 26 rekan-rekan Jurnalisme 2010, terutama Adri Nur Muhammad Martadipura dan Irma Sanusi, terima kasih! Belajar jurnalisme mungkin bakal membosankan kalau tidak bersama kalian.
  8. Delia Wildianti. Terima kasih melimpah untuk optimisme dan curahan semangat (serta kealayan tiada habisnya) di saat aku nyaris putus asa.
  9. Untuk Mamat, Izul, Ghurron, dan Coki, terima kasih telah diperbolehkan menginap di rumah kontrakan kalian untuk menaklukan malam-malam panjang menyelesaikan skripsi ini.
  10. Keluarga Adkesma 2011-2012 serta Keluarga Besar BEM FISIP UI 2011-2012. Terima kasih atas kehangatan dan pengalaman berharga yang  menyertai perjalanan saya selama kuliah.
  11. Pastinya, untuk teman-teman Ilmu Komunikasi 2010, terima kasih banyak atas warna-warni yang kalian berikan. Khusus Mira, Ifa, Nana, Nadia, Iyan, Arya, Odi, Felice, Ghurron, dan geng-empat-tahun lainnya terima kasih buat perjuangan nugas akhir bersama.
  12. Untuk APSIA Executives: Kak Adam, Kak Rina, Kak Iqbal, Kak Desti, Kak Taning, Kak Juniko, Kak Dhika, Lisa, Khezia, Mia, dan Jouvy, terima kasih banyak atas ajaran “matil” dan hiburan di grup.
  13. Untuk Geng Youth for Autism, terima kasih atas pengertiannya mengizinkan gue “menghilang” sementara dari kegiatan YfA untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk Kak Rizka, terima kasih karena mau direpotkan mengunduh jurnal-jurnal dari Australia sana.
  14. Tio Ridwan Utama, Gineng Pratidina Permana Sakti, Afiat Anang, dan Rahmatika Febrianti, anggota Kresna Bathara, terima kasih untuk ajakan-ajakan cari hiburan (juga diskusi asyik) di tengah kepenatan!
  15. Untuk 62 orang der Crux Generation, spesial untuk Noor Maulida, yang berada amat jauh namun selalu terasa dekat, terima kasih! Terima kasih istimewa untuk Alfi Fudhola dan Muhammad Alifa Farhan, atas kesiapsediaan menjadi tempat curhat dan diskusi.
  16. Untuk keluarga besar saya, terima kasih atas curahan kasih sayang dan untaian doa. Untuk Teh Uing, yang juga sedang mengerjakan skripsi, terima kasih telah turut mentransfer banyak energi dan semangat.
  17. Di atas segala-galanya, rasa syukur kepada Allah SWT yang hanya atas segala kemahaan-Nya, saya tidak menyerah hingga akhir, karena saya yakin Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

In addition, my sincerest thanks would also be expressed to whoever-I-may-forget-to-mention but has helped me and never forgot to pray for my health and easiness. Thank you! I love you all.