Tuesday, 28 March 2017

Syukur (Bagian II)

Ini kedua kalinya kami berkendara pick up menyusuri jalanan lintas Pulau Yamdena, Maluku Tenggara Barat. Kali ini, saya dan enam sahabat lainnya ber-pick up ria menuju Desa Alusi Batjas.

Belum setengah perjalanan kami lalui, ban pick up tiba-tiba pecah. Tentu tak ada bengkel di sana. Kanan kiri jalan lintas Yamdena masih ditutupi hutan. Sepi sekali. Hanya sesekali ada kendaraan melintas.

Untung, ada ban cadangan dan sarjana teknik berprestasi di rombongan kami (satu-satunya yang bisa diandalkan)! Hahaha. Berbekal alat seadanya, mendadak montir pun bertindak. Entah berapa jam, perjalanan kami terhenti sebelum kemudian lanjut kembali. Sedihnya, kami tak bisa berkabar ke orang-orang di Desa Alusi Batjas karena tiada sinyal seluler di sana.


Belum lagi sampai tujuan, mobil kembali menepi karena ada seorang bapak melambaikan tangan. Ternyata bapak itu korban kecelakaan. Motor yang ia kendarai entah kenapa patah stang. Kebetulan, bapak itu hendak ke desa tetangga Alusi Batjas, Lorwembun. Walau awalnya ragu karena sudah terlambat dan terburu-buru, kami pun mengangkut motor yang rusak parah (dan bapaknya) naik ke pick up.

Entah bagaimana nasib bapak ini kalau tak ada yang lewat. Sudah celaka, harus jalan kaki puluhan kilometer pula. Sesampainya di Lorwembun, tatapan penuh tanya memandangi kami. Saat kami menurunkan si bapak dan motornya, ada ibu-ibu yang berteriak marah. Dikiranya, kami menabrak si bapak sampai motornya hancur.

Usai urusan di Lorwembun, perjalanan berlanjut. Akhirnya tiba juga di Alusi Batjas! Saking telatnya (sampai empat jam), masyarakat sempat mengira kami batal datang. Singkat cerita, kegiatan di Alusi Batjas berjalan lancar dan menyenangkan. Masyarakat di sana sangat bersemangat dan antusias mengikuti kegiatan.

Menjelang magrib selepas hujan reda esok harinya, kami pamit pulang dengan senang. Sampai kemudian pick up terperangkap di jembatan yang belum selesai dibangun. Karena hujan deras sebelumnya, jembatan jadi penuh lumpur dan licin. Sudah mencoba manuver berulang kali pun mobil tak bergerak. Para lelaki berusaha menimbun kubangan lumpur dengan batu, tapi mobil tak jua maju.

Para perempuan lalu turun mendorong pick up tapi rupanya tenaga kami tak ada apa-apanya. Beruntung waktu itu ada bapak-bapak kekar pekerja jembatan yang datang membantu. Voila! Pick up pun bebas dari perangkap. Dengan penuh lumpur, ngantuk, lapar dan kedinginan, kami lanjut ke Saumlaki. Kami singgah di RM Padang Ayah untuk makan malam yang kemalaman. Bersyukur seporsi nasi padang dan es teh gula menutup hari itu dengan penuh nikmat.

Eh, ternyata hari itu masih harus ditutup dengan drama 'insiden sate' (only we know) menguras emosi. Akhirnya ya syukur(in) saja, ya!

Syukur (Bagian I)

A post shared by Rahmi Suci Ramadhani (@rahmisr) on

Meskipun ada pilihan yang lebih nyaman, entah kenapa kami suka sekali menjalani yang (kelihatannya) tidak lebih nyaman karena kami percaya ini seru! (Padahal sih karena gak sanggup bayar yang lebih nyaman hahaha).

Semua (apalagi yang pakai topi lebar) awalnya takut hitam karena kepanasan, tapi akhirnya kami semua gak peduli. Pemandangan sepanjang jalan indah sekali, belum lagi udara sejuknya. Ditambah ketawa-ketawanya karena main tebak-tebakan receh. Ya, tapi tetap panas sih hahaha.

Terima kasih, Pengajar Muda Angkatan 10 MTB! Senang banget bisa ketemu orang-orang kayak kalian yang tetap bisa bahagia di kala susah hehe. Terima kasih terbesar saya juga buat Abang bertopi merah di ujung kiri sana. Abangnya dengan besar hati (atau mungkin berat hati) rela menyetir puluhan kilometer menembus desa demi desa di pesisir timur Pulau Yamdena dari Saumlaki hingga Tutukembong. Trims, Bang! Pasti melelahkan ya.

Duh, saya gak bisa lupa ini. Benaran gak akan pernah terlupa. Apalagi perjalanan ini mengantarkan saya bertemu guru-guru keren dan orang-orang baik di acara Temu Akbar II Angkatan Pelopor MTB di Desa Tutukembong. Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kudustakan?