Dari roman wajahnya, saya bisa menangkap kekagetan Alfin, murid saya di kelas tiga. Hari ini, saya memintanya mencari batang bambu (di sini sering disebut rotan). Rotan masih menjadi salah satu momok bagi para siswa di sini sebab seringkali kesalahan kecil mereka, yang sesungguhnya khas anak-anak, mesti diganjar sabetan benda itu. Barangkali Alfin mengira saya akan memukulnya atau memukul teman-temannya karena tidak tertib di dalam kelas. Dengan takut-takut, Alfin menyerahkan beberapa batang rotan yang ditemukannya di halaman depan kelas.
Usai menerima rotan, saya meminta Alfin untuk lekas duduk. Suasana kelas saat itu amat gaduh. Anak-anak mungkin belum puas bermain saat istirahat tadi.
"Yang dengar suara Ibu tepuk tangan tiga kali!" seru saya memberi sinyal, mencoba menarik perhatian anak-anak.
Setelah kelas reda dari keriuhan, saya memulai pelajaran.
"Anak-anak, sekarang katong belajar SBK. Anak-anak su tahu SBK toh?" kataku basa-basi.
"Tahu, Ibu! Tahu, Ibu! Seni Budaya dan Keterampilan, Ibu!" mereka menjawab serempak. Kompak.
"Nah, hari ini katong mau ada pertunjukkan nyanyi. Tapi anak-anak seng bernyanyi sendiri. Kamong bernyanyi sama-sama satu grup. Setiap grup ada empat orang," saya menjelaskan.
Saya lanjut bertanya sembari mengangkat rotan, "Anak-anak tahu ini apa?"
"Rotan, Ibu."
"Bambu, Ibu."
"Kayu, Ibu."
"Iya, betul. Ini batang bambu. Tapi sekarang batang bambu ini berubah menjadi ....," aku menggantung penjelasanku dan menirukan gaya pemain gitar.
"Gitar, Ibu!" anak-anak menebak kompak.
"Pintar!" kataku. Aku lalu mengangkat batang bambu lain dan menyulapnya menjadi mic sang vokalis, biola, serta stik drum. Sementara mejaku berubah menjadi keyboard.
"Wih, jelas, Ibu! Jelas!" anak-anak antusias melihat aktingku.
Dan jadilah hari itu aku menemukan bakat-bakat baru anak-anakku. Ada yang malu-malu memetik gitar, ada yang tak ragu menggenjrengnya bagai rockstar. Ada yang menekan tuts keyboard layaknya keyboardis kawakan, ada pula sebaliknya. Ada yang takut-takut memegang mic dan ada juga yang gayanya bak biduan dengan jam panggung tinggi.
Bagiku, kelas hari itu seru. Dan... amat melelahkan haha. Anak-anak belum paham soal menghargai teman yang sedang tampil di muka kelas sampai-sampai ada yang menyerobot "panggung". Beberapa merajuk karena ingin tampil lebih dulu, belum paham tentang bersabar. Duh, pokoknya repot dan ribut. Tapi menurut saya, itulah konsekuensinya memberi ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan berimajinasi, mereka seringkali semakin tak terkendali. Dalam hati, saya amat berharap, semoga di kelas tadi anak-anak dapat pelajaran agar berani, saling menghargai dan bersabar.
Keterangan:
- katong: kita
- su: sudah
- seng: tidak
- kamong: kalian
- jelas: keren, bagus, hebat
Adaut, 2 Desember 2015

No comments:
Post a Comment