Sunday, 4 September 2016

Setelah Enam Bulan

Ini tulisan yang saya buat pada awal bulan ke-tujuh penugasan sebagai Pengajar Muda Indonesia Mengajar, tepatnya bulan Desember. Sebetulnya, tulisannya ditujukan buat keenam teman saya yang lain. Waktu itu, kalau nggak salah ingat, kami sudah cukup lama tidak berkumpul bersama. Terakhir kali kita bertemu waktu ada kegiatan di kabupaten pada bulan Oktober. Sehabis itu, tak terasa kita sudah setengah perjalanan!

Setelah Enam Bulan 
Segala yang pertama selalu memberikan degup yang berbeda.
Pertama kali naik kapal kayu mengarung laut bergelombang.
Pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan sebuah desa yang seluruhnya terasa asing.
Pertama kali memperkenalkan diri di hadapan seluruh warga sekolah.
Pertama kali mengajar di kelas.
Pertama kali memeriksa hasil karya siswa.
Pertama kali mandi air laut dengan anak-anak.
Pertama kali memancing ikan.
Pertama kali membentak siswa karena sudah habis kesabaran.
Pertama kali menari tradisional di hadapan seluruh warga kampung.
Pertama kali mengunjungi rumah orang tua siswa.
Pertama kali berkebun di hutan.
Pertama kali mengenal situs Padamu Negeri dan Dapodik.
Pertama kali mengajar enam kelas sendirian.
Pertama kali ke pulau tak berpenghuni.
Pertama kali makan sayur bunga pepaya.
Pertama kali makan ikan yang jauh lebih besar dari paha kita sendiri.
Pertama kali menyelam laut menembak gurita.
Pertama kali ketinggalan kapal.
Pertama kali digigit agas.
Pertama kali dirindukan siswa.
Pertama kali merindukan mereka.
Pertama kali membuat soal ulangan.
Pun pertama kali membagikan laporan hasil belajar siswa kepada orang tua mereka. 
Jika enam bulan lalu hampir setiap hari adalah serba yang pertama, setelah enam bulan mungkin sudah tak lagi. Setelah enam bulan, degupnya akan jadi beda. Gelombang mesti kian tinggi, angin mesti semakin kencang tapi kita juga mesti telah bertambah kuat, disadari atau tidak. 
Setelah enam bulan, semoga hilang semua keluh dan angkuh, walau pasti kian bertambah peluh. Meski terkadang banyak hal tak saling akur, semoga kian pandai bersyukur. 
Meski saya tahu ucapan ini tak akan segera terbaca karena ketiadaan sinyal di desa kalian, selamat menempuh enam bulan berikutnya, para pejuang kesayangan di bumi Tanimbar: Ika Nurstya Ningrum, Maria Viannie Anastasia Sitepu, Kak Indah Rahma Yeni, Bang Shandy Marpaung, Dwi Jarot, dan Bang Juliansyah! 

Sekarang, sudah dua bulan lebih sejak kita selesai tugas pada Juni lalu. Semakin jauh pula jarak kita satu sama lain. Ada yang di Medan, Riau, Kutai, Banten, Surabaya, Bali. Entah ke depannya bakal ketemu seberapa sering satu sama lain. Hem, kira-kira tahun berapa ya kita bertujuh bakal kumpul lengkap lagi? 2020? 2025? Haha ayo tebak!

Tapi, ternyata eh ternyata, setelah saya hitung-hitung, faktanya kami bertujuh ini cuma kumpul lengkap sebanyak empat kali dalam setahun loh waktu masih tugas di Maluku Tenggara Barat! Itu pun termasuk kumpul untuk pulang ke Jakarta heuheu. Kami memang ditempatkan di desa yang berjauhan satu sama lain dan terpisah di empat pulau berbeda. Kalaupun ada yang satu pulau, tetap terpisah dari ujung pulau yang satu ke ujung pulau lainnya. Tapi entah kenapa rasanya bisa sayang sama orang-orang ini padahal jarang ketemu dan sulit berkomunikasi hehe.

Well, semoga masih bisa saling ketemu ya, Geng! Aamin.

Kumpul perdana: Juli-Agustus. Untuk kegiatan Ruang  Berbagi Ilmu (Rubi) Tanimbar lalu jalan-jalan ke Pantai Weluan. Ini foto kece di Pantai Weluan. Fotografernya Kak Stanley Ferdinandus dari Heka Leka Ambon.
Kedua: Oktober. Untuk Temu Akbar Angkatan Pelopor di Tutukembong lanjut Forum Keberlanjutan Kabupaten dan Site Visit ke Lamdesar Barat dan Werain (pas site visit minus Bang Shandy). Ini foto pas mau antar Kak Dimas ke bandara.
Ketiga: Januari - Februari. Untuk kegiatan di Alusi Batjas. Ini foto pas mau bikin video ucapan #5yukuranIM.
Keempat: Juni. Untuk #IMPamit dan Pulang. Ini foto kece buat kenang-kenangan. Fotografernya Novince alias Vhien, relawan pendidikan Tanimbar.

No comments:

Post a Comment