Wednesday, 16 July 2014

Thank You!

This post contains the most of the most important part in my undergraduate thesis. Since I ain't so sure, one (especially those are mentioned here) will read my thesis in the future (hahaha), through this post I'd like to express my sincere thanks to everyone listed below (I know even the biggest thanks will never be enough, though). 


UCAPAN TERIMA KASIH

Saya memulai perjalanan ini atas kehendak saya sendiri, namun saya mampu menyelesaikannya atas pertolongan dari banyak pihak. Saya tentu ingin menghaturkan terima kasih kepada berbagai pihak.
  1. Teruntuk Dr. Donna Asteria, S.Sos, M.Hum, saya berterima kasih atas segala kebaikan dalam berbagi pengetahuan. Terima kasih telah demikian sabar dalam membimbing dan senantiasa mengingatkan saya untuk menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Saya merasa sangat beruntung, Mbak! Semoga saya tidak mengecewakan Mbak Donna.
  2. Drs. Awang Ruswandi, M.Si selaku penguji ahli dan Dra. Rosy Tri Pagiwati, MA sebagai ketua sidang, terima kasih banyak atas kritik dan masukan yang bermanfaat untuk perbaikan skripsi ini.
  3. Program S1 Reguler Departemen Ilmu Komunikasi, seluruh dosen dan staf administrasi di dalamnya—khususnya dosen-dosen Jurnalisme, terima kasih untuk ilmu pengetahuan selama saya menempuh pendidikan di sini, Bang, Mas, Mbak!
  4. Teristimewa untuk keluarga tersayang yang selalu menjadi paling pertama saya sebut dalam doa: Mamah Euis dan Bapak Jumhedi—orang tua sekaligus guru teladan yang mencontohkan pentingnya pendidikan sepanjang masa, Teteh Putri, serta adik-adik: Aa Puji, Ade Puja, Neng Ayu, Raja, Inu. Terima kasih pun tak akan pernah cukup.
  5. Mira Natasya Aulia Siregar dan Ricky Alexander Samosir. Terima kasih atas keriangan dan keceriaan yang senantiasa dibagi.
  6. “The Aculs”: Yuthi Fatimah, Syifa Sakinah, Aisyah Khairunnisa, Issha Harruma, dan Christie Tiarmalia, terima kasih. Akhirnya kita resmi bergelar Sarjana Sosial(ita), bukan “anak culuns” lagi! Hahaha.
  7. Untuk 26 rekan-rekan Jurnalisme 2010, terutama Adri Nur Muhammad Martadipura dan Irma Sanusi, terima kasih! Belajar jurnalisme mungkin bakal membosankan kalau tidak bersama kalian.
  8. Delia Wildianti. Terima kasih melimpah untuk optimisme dan curahan semangat (serta kealayan tiada habisnya) di saat aku nyaris putus asa.
  9. Untuk Mamat, Izul, Ghurron, dan Coki, terima kasih telah diperbolehkan menginap di rumah kontrakan kalian untuk menaklukan malam-malam panjang menyelesaikan skripsi ini.
  10. Keluarga Adkesma 2011-2012 serta Keluarga Besar BEM FISIP UI 2011-2012. Terima kasih atas kehangatan dan pengalaman berharga yang  menyertai perjalanan saya selama kuliah.
  11. Pastinya, untuk teman-teman Ilmu Komunikasi 2010, terima kasih banyak atas warna-warni yang kalian berikan. Khusus Mira, Ifa, Nana, Nadia, Iyan, Arya, Odi, Felice, Ghurron, dan geng-empat-tahun lainnya terima kasih buat perjuangan nugas akhir bersama.
  12. Untuk APSIA Executives: Kak Adam, Kak Rina, Kak Iqbal, Kak Desti, Kak Taning, Kak Juniko, Kak Dhika, Lisa, Khezia, Mia, dan Jouvy, terima kasih banyak atas ajaran “matil” dan hiburan di grup.
  13. Untuk Geng Youth for Autism, terima kasih atas pengertiannya mengizinkan gue “menghilang” sementara dari kegiatan YfA untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk Kak Rizka, terima kasih karena mau direpotkan mengunduh jurnal-jurnal dari Australia sana.
  14. Tio Ridwan Utama, Gineng Pratidina Permana Sakti, Afiat Anang, dan Rahmatika Febrianti, anggota Kresna Bathara, terima kasih untuk ajakan-ajakan cari hiburan (juga diskusi asyik) di tengah kepenatan!
  15. Untuk 62 orang der Crux Generation, spesial untuk Noor Maulida, yang berada amat jauh namun selalu terasa dekat, terima kasih! Terima kasih istimewa untuk Alfi Fudhola dan Muhammad Alifa Farhan, atas kesiapsediaan menjadi tempat curhat dan diskusi.
  16. Untuk keluarga besar saya, terima kasih atas curahan kasih sayang dan untaian doa. Untuk Teh Uing, yang juga sedang mengerjakan skripsi, terima kasih telah turut mentransfer banyak energi dan semangat.
  17. Di atas segala-galanya, rasa syukur kepada Allah SWT yang hanya atas segala kemahaan-Nya, saya tidak menyerah hingga akhir, karena saya yakin Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

In addition, my sincerest thanks would also be expressed to whoever-I-may-forget-to-mention but has helped me and never forgot to pray for my health and easiness. Thank you! I love you all.

Tuesday, 18 March 2014

Teman Sebangku


Hai, Fitra yang baik...

Ada yang ingin kusampaikan padamu. Baca baik-baik, ya! Eh, tapi tidak usah terburu-buru, ini (mungkin) tidak terlalu penting buat kamu.

Fitra, masih ingatkah kamu.... dulu, kelas tiga sekolah dasar, kita beradu mulut waktu pertandingan voli antarkelas? Yang dipertandingkan olah raga voli, tapi yang seru adalah perang urat saling teriak curang. Lucu sekali, setahun kemudian kita malah duduk di kelas yang sama, hingga tiga tahun lamanya sampai wisuda kelulusan kita.

Masih ingatkah, Pak Henhen--guru favorit kita semasa seragam putih-merah, memerintah kita untuk duduk sebangku di baris paling depan akibat kamu terlalu sering mengobrol di deret bangku belakang (aku lupa siapa kawan sebangkumu sebelumnya). Aku ikut dihukum (untuk duduk paling depan), gara-gara kamu ribut di kelas. Tenang saja, aku tidak pernah marah dengan insiden itu. Justru menyenangkan, karena kupikir itulah awal mula kita bisa dekat.

Lulus sekolah dasar, kita masuk ke sekolah menengah pertama yang sama. Ingatkah ketika kita--bersama Lina dan Nuke, khawatir tidak diterima di sekolah itu? Hampir setiap saat datang ke calon sekolah kita itu untuk sekadar mengecek kalau-kalau posisi kita tergeser oleh orang lain yang NEM-nya lebih tinggi dari kita (ah, padahal kenapa harus khawatir ya kita kan dulu anak kelas unggulan sekolah dasar teladan #sombong, hahaha).

Senang sekali waktu hasil placement test--yang meskipun nilai kita jelek banget itu, menempatkan kita di kelas yang sama. Aku, kamu, Lina, dan Nuke di kelas 1A (kelas unggulan lho #masihajasombong, hahaha). Kita duduk sebangku lagi, Lina dan Nuke juga.

Masih ingatkah masa-masa indah (kalau tidak mau disebut alay) ketika kita bersekolah seragam putih-biru plus jilbab dan sepatu warrior (tidak lupa kan sekolah kita mewajibkan kita pakai sepatu warrior)? Ah, pasti masih ingat, kita sudah pernah bahas (sering malah, terakhir kita nostalgia di Twitter beberapa waktu lalu). Aduh, rindu.

Siapa yang tidak kangen photo box di Rabinza yang Teteh penjaganya mirip Nirina Zubir? Siapa juga yang tidak geli setiap kali ingat bagaimana kita dulu sungguh memfavoritkan Abang-abang Polisi--yang asramanya tepat di seberang sekolah kita? Siapa yang tidak tergoda untuk masak dan makan nasi goreng plus kentang goreng a la kita yang superlezat itu?

Atau, siapa yang tidak tergiur untuk beli rujak buah (uangnya patungan), makan di kamar Nuke (sambil ngeberantakin kamar itu), dan kalau buahnya habis, bumbunya kita makan pakai kerupuk? Oh ada lagi soal makan-makan ini (persahabatan kita tidak jauh dari makanan ya hahaha). Aku ingat, dulu kita berempat amat suka nasi goreng spesial (pakai kacang polong, sosis, dan bakso) buatan Lek Nah (eh betul kan nama tantemu itu Lek Nah? Apa kabar beliau sekarang, Ta?).

Pernah juga suatu masa, ketika kita masuk sekolah pada siang hari, pagi harinya sering kita habiskan di rumah Lina. Main The Sims! Atau games komputer lainnya. Lalu, kita berangkat sekolah bersama naik angkot. Duh, masih banyak lagi aktivitas yang sering kita lakukan dulu. Komunikasi kita mulai banyak berkurang semasa kita putih-abu. Ya, aku dan kamu bersekolah jauh dari kedamaian Kota Rangkasbitung. Sementara Lina dan Nuke masih di kota kecil itu.

Tapi apalah makna jarak bagi sebuah persahabatan selain mencipta rasa yang paling tulus: rindu? Meski berbeda sekolah, kita masih sering berkumpul waktu liburan tiba. Setiap Hari Raya Idulfitri juga sebisa mungkin kita sempatkan bertemu untuk sekadar bersilaturahmi (juga mencicip kue Lebaran haha). Sungguh indah, menurutku.

Teman sebangkuku dulu yang kusayangi....
Aku tidak bermaksud mengajakmu kembali ke masa lalu (dan kita duduk sebangku lagi), betapapun lebih indahnya masa lalu itu kita rasakan daripada hidup yang kini kita jalani. 17 Maret 2014 menandakan 21 tahun telah berlalu dalam hidupmu. 21 tahun yang tentu tak melulu indah, di tengah banyak masalah yang kamu hadapi--yang sebagian besar di antaranya mungkin tidak pernah kuketahui.

Pada kesempatan ini, aku sebetulnya hanya ingin menyampaikan ucapan selamat ulang tahun buatmu. Juga harapan-harapan dan doa. Sebagian besar, aku yakin, adalah harapan dan doa yang sama yang juga diungkapkan banyak orang lain di sekitarmu.

21 tahun yang telah lalu, barangkali ada banyak yang kausesali, yang ingin kaukenang atau kaulupakan, tapi semoga kamu bersyukur telah dilahirkan ke dunia dan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Di titik ini, kamu mungkin masih punya puluhan tahun lagi di dunia, atau ratusan (siapa tahu?), entah berapa... tidak ada yang pernah tahu.

Di depan sana, mungkin akan ada lagi hal mengecewakan yang ingin kaulupakan, atau tindakan bodoh yang akan kausesali. Tetapi untuk apa khawatir. Hiduplah dengan syukur, dengan semangat berjuang. Kejarlah cita-citamu, jangan pernah menyerah. Orang-orang tersayangmu suatu saat mungkin akan pergi meninggalkanmu, tetapi percayalah kamu tidak akan pernah sendiri.

Selamat ulang tahun ke-21, Fitra Rahmawati. Semoga kamu bahagia dan mulia senantiasa.


Dini hari di Depok....
Selalu,
Rahmi

Saturday, 1 February 2014

Me

This post is originally posted in a friend foe's blog, Muhammad Alifa Farhan. Check out original post here.

Rahmi Suci Ramadhani
Tulisan pesenan dari Rahmi yg minta ditulisin tentang dirinya :p

3 tahun lalu dia pernah nulis ttg saya di sini. Tulisan tentang Rahmi ini beneran jujur dan ditulis dengan sekali nulis jadi akan sejujur-jujurnya dan seadanya :D

Rahmi, seorang gadis desa dari Rangkasbitung Lebak, Banten yang saat ini sedang menjalani semester akhir di Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia. Rahmi adalah teman SMA, rival, enemy, pendengar curhat, dan juga sahabat saya!

Kita mulai dengan kedecerdasannya, Rahmi luar biasa cerdas! IQnya 137 kalo tidak salah, salah satu tertinggi di angkatan SMA saya. Hal ini yang membuat saya selalu terdorong untuk bersaing dengan dia terutama bidang akademis. Saat kelas X, kita bersaing untuk jadi juara kelas walaupun sama-sama gagal, bahkan nilai akhir kami sama, sama-sama ranking dua. Seri. Masuk kelas XI, kita terpisah jalur, Rahmi masuk IPS, saya masuk IPA. Tapi kami masih bersaing untuk jadi lulusan terbaik di bidang kami, saya dan Rahmi sama-sama jadi lulusan terbaik untuk IPA dan IPS. Seri lagi. Masuk kuliah, saya dan Rahmi sama-sama daftar jalur undangan untuk masuk Komunikasi UI, Rahmi diterima, saya tidak. Rahmi menang, Tapi ternyata jalur saya memang bukan bidang sosial, saya akhirnya ke ITB. Persaingan kami tidak lagi di jalur yang sama.

Rahmi cinta sekali dengan buku, list buku yang sudah saya baca jauh tertinggal dibanding list buku dia. Hobby yang jarang saya temukan disekitar pertemanan saya. Hobby ini mungkin yg buat dia tau banyak hal walau kadang suka sok tau :p 

Rahmi sering ga mau kalah, setidaknya ini yg terakhir saya tau. Setelah lulus SMA, pertemuan kami sangat jarang dan lebih sering via media sosial. Ini hal baik dan juga hal buruk, baik karena jadi selalu berusaha memberikan yang terbaik, buruk karena membuat terlihat egois.

Rahmi juga pendengar yang baik! Saat saya di Malaysia, teman di Indonesia yang sengaja saya hubungi adalah Rahmi. Selain teman diskusi yang seru dia juga pemberi nasihat yang baik (Walaupun anak 1993 yang selalu bangga dengan tahun kelahirannya ini jelas lebih muda dari saya). Saya cerita berbagai hal ke Rahmi, mulai dari Poltik sampai cinta, dari mimpi hingga sejarah. Saat saya mau mendekati perempuan untuk dijadikan pacar, Rahmi yang mendengar cerita saya. Saat saya baru saja putus cinta, Rahmi juga yang saya hubungi untuk bercerita dan mendengar nasihatnya. Rahmi adalah salah satu orang yang berperan penting buat saya melewati tahap after-broke-upsaya. Rahmi benar-benar teman cerita yang baik.

Rahmi selalu mengajarkan saya untuk “Do what you love!”, Saat SMA dengan nilai akademis dia yang begitu bagus, Rahmi memutuskan masuk IPS. Karena dia suka IPS, itu aja. Saat sekarang kuliah, Rahmi milih untuk jadi jurnalis yang harus terjun ke lapangan, dari masuk pasar bertemu pedagang cabai hingga bertemu preman Pulogadung. Walaupun di dunia komunikasi masih banyak pilihan untuk pekerjaan yang lebih ‘nyaman’, dia milih ini. Alasannya? Dia suka bidang ini dan dia akan berkarya dibidang yang dia suka. 

Kita janji, sepuluh tahun sejak kelulusan SMA, 19 Juni 2020, kita akan bertemu lagi dan membuktikan hasil persaingan kita yang ga akan pernah selesai.
Selamat tahun baru Rahminemy!
Semoga kita bisa jadi individu yang lebih baik tahun ini dan tentu punya gelar tambahan di akhir nama kita! 
"Kebahagiaan itu tersebar, menular. Kalau kita sendiri ga bahagia, gimana mau bikin orang lain bahagia" -Rahmi Suci Ramadhani

Thursday, 28 February 2013

A Birthday Gift

This post originally posted in a friend's blog. A very special birthday's gift from a very special friend of mine. Thank you so much, Widya 'Acul' Arifianti! You've got me speechless!

Setelah 26 Februari 2013

Setelah 26 Februari 2013, ada seorang perempuan yang genap dua dekade memperjuangkan mimpinya. Sejak dia menyadari bahwa dirinya adalah angan yang ditiupkan Tuhan lewat rahim ibunya. Mewujud menjadi realita. Seorang anak perempuan yang dinamai Rahmi Suci Ramadhani.

Ini bukanlah ucapan selamat ulang tahun, melainkan opini salah satu dari sekian banyak temannya. Jadi sebagai salah satu dari sekian banyak temannya, saya akan menceritakan sedikit-banyak tentang dia.
Tanpa bermaksud mempromosikan atau menaruhnya dalam kolom jodoh, saya merasa Ami, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang calon ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Pun calon istri yang baik untuk suaminya kelak karena sampai saat ini pun ia adalah seorang teman yang baik bagi siapapun yang mengenalnya.

Setiap kali ia melenggang di depan kami, teman-temannya pasti selalu memanggilnya. Untuk menyapa, sudah pasti. Setelah menyapa, pasti selalu bertanya. Tentang apapun, tetapi kebanyakan adalah tentang sesuatu yang belum pernah diketahui oleh teman-temannya itu. Singkat kata, Ami adalah seseorang yang memiliki banyak wawasan. Mungkin dulu sewaktu mengandung Ami, ibunya mengkhatamkan banyak ensiklopedia atau kamus.

Jadi, siapapun yang sekelas dengannya pasti berebutan ingin menjadi kawan kelompoknya dan siapapun yang terpilih menjadi kawan kelompoknya pastilah orang-orang paling beruntung di kelas. Karena Ami seorang, sukses nilai sekelompok.

Namun, pernah pada suatu kali. Saya melihat Ami meringkuk sendirian di sudut perpustakaan fakultas. Mengerjakan tugas kelompok yang seharusnya tidak ditanggungnya sendiri. Baru kali ini saya melihatnya mengeluh. Mungkin karena lelah. Tetapi saya lebih yakin dia mengeluh karena sedih teman-temannya tidak berusaha sekeras dia, tidak belajar sekeras dia sehingga pada akhirnya mungkin tidak mendapatkan nilai sebagus dia.

Setelah membaca beberapa paragraf tentang Ami, kalian yang membaca tulisan ini mungkin mengira bahwa Ami adalah seorang kutu buku yang sering meninggalkan napak tilas di setiap perpustakaan sampai mengorbankan aktivitas sosialnya. Maaf, kalian salah besar. Dia adalah kutu buku yang terbang melanglangbuana mencari teman juga pengalaman.

Di kampus, dia pernah aktif (bahkan sampai sekarang mungkin masih aktif) di beberapa organisasi kemahasiswaan. Bahkan memegang salah satu jabatan tinggi di organisasi tersebut. Tidak hanya memangku jabatan, saya merasa Ami juga mengemban tanggung jawab yang berarti. Kira-kira setahun, ia membuka dirinya untuk masalah-masalah kesejahteraan mahasiswa.

Di kampus saya, banyak yang repot berorasi sana-sini, menuntut pemerintah agar sedikit berpikir.
Banyak yang belingsatan sana-sini, mengurus kegiatan untuk berpesta pora
Banyak pula yang sibuk berlatih untuk ajang-ajang kompetisi

Dan Ami, adalah salah satu dari mahasiswa yang meluangkan waktunya untuk mereka. Para mahasiswa yang kesehariannya mungkin senang berorasi, mengurus kegiatan untuk berpesta pora, berlatih untuk ajang-ajang kompetisi, dan segala macam aktivitas lainnya, tetapi punya masalah serius yang bersifat pribadi dan sensitif: kesejahteraan.

Saya tidak tahu apa saja yang sudah Ami lakukan untuk itu. Tetapi setelah beberapa lama menghabiskan waktu setiap harinya bersama Ami, saya yakin bahwa Ami mencurahkan hampir seluruh tenaga dan waktu yang dimilikinya untuk itu. Dia jarang menolak untuk kebaikan.

Oleh karena itu, untuk segala hal yang telah diperjuangkannya, berhasil atau tidak. Saya, mewakili seluruh orang-orang yang pernah menikmati kemurahan hatinya, berterima kasih…

Pada Rahmi Suci Ramadhani, yang selama 20 tahun untuk senantiasa menebar kebaikan dan pengetahuan. Semoga terus berlanjut, setelah 26 Februari 2013 ini.
Pada kedua orangtuanya yang telah mengajarkannya untuk menebar senantiasa kebaikan dan pengetahuan.
Juga pada Tuhan, yang telah menghadirkan Rahmi di antara kami.
Terima kasih :)

Dan, meskipun saya tidak meniatkan tulisan ini sebagai ucapan selamat ulang tahun, saya ingin mengucapkan:
Selamat Ulang Tahun, Rahmi.


Jakarta, Setelah 26 Februari 2013

Monday, 11 February 2013

(Not) End of Story

Absolutely, it's not an end of story.
It's the beginning of another journey.

 
Photoshoped by: Galih Satrio Aji

Thank you, thank you for memories we shared, lessons we learned, loves we had.

See you, Family!