Tuesday, 18 March 2014

Teman Sebangku


Hai, Fitra yang baik...

Ada yang ingin kusampaikan padamu. Baca baik-baik, ya! Eh, tapi tidak usah terburu-buru, ini (mungkin) tidak terlalu penting buat kamu.

Fitra, masih ingatkah kamu.... dulu, kelas tiga sekolah dasar, kita beradu mulut waktu pertandingan voli antarkelas? Yang dipertandingkan olah raga voli, tapi yang seru adalah perang urat saling teriak curang. Lucu sekali, setahun kemudian kita malah duduk di kelas yang sama, hingga tiga tahun lamanya sampai wisuda kelulusan kita.

Masih ingatkah, Pak Henhen--guru favorit kita semasa seragam putih-merah, memerintah kita untuk duduk sebangku di baris paling depan akibat kamu terlalu sering mengobrol di deret bangku belakang (aku lupa siapa kawan sebangkumu sebelumnya). Aku ikut dihukum (untuk duduk paling depan), gara-gara kamu ribut di kelas. Tenang saja, aku tidak pernah marah dengan insiden itu. Justru menyenangkan, karena kupikir itulah awal mula kita bisa dekat.

Lulus sekolah dasar, kita masuk ke sekolah menengah pertama yang sama. Ingatkah ketika kita--bersama Lina dan Nuke, khawatir tidak diterima di sekolah itu? Hampir setiap saat datang ke calon sekolah kita itu untuk sekadar mengecek kalau-kalau posisi kita tergeser oleh orang lain yang NEM-nya lebih tinggi dari kita (ah, padahal kenapa harus khawatir ya kita kan dulu anak kelas unggulan sekolah dasar teladan #sombong, hahaha).

Senang sekali waktu hasil placement test--yang meskipun nilai kita jelek banget itu, menempatkan kita di kelas yang sama. Aku, kamu, Lina, dan Nuke di kelas 1A (kelas unggulan lho #masihajasombong, hahaha). Kita duduk sebangku lagi, Lina dan Nuke juga.

Masih ingatkah masa-masa indah (kalau tidak mau disebut alay) ketika kita bersekolah seragam putih-biru plus jilbab dan sepatu warrior (tidak lupa kan sekolah kita mewajibkan kita pakai sepatu warrior)? Ah, pasti masih ingat, kita sudah pernah bahas (sering malah, terakhir kita nostalgia di Twitter beberapa waktu lalu). Aduh, rindu.

Siapa yang tidak kangen photo box di Rabinza yang Teteh penjaganya mirip Nirina Zubir? Siapa juga yang tidak geli setiap kali ingat bagaimana kita dulu sungguh memfavoritkan Abang-abang Polisi--yang asramanya tepat di seberang sekolah kita? Siapa yang tidak tergoda untuk masak dan makan nasi goreng plus kentang goreng a la kita yang superlezat itu?

Atau, siapa yang tidak tergiur untuk beli rujak buah (uangnya patungan), makan di kamar Nuke (sambil ngeberantakin kamar itu), dan kalau buahnya habis, bumbunya kita makan pakai kerupuk? Oh ada lagi soal makan-makan ini (persahabatan kita tidak jauh dari makanan ya hahaha). Aku ingat, dulu kita berempat amat suka nasi goreng spesial (pakai kacang polong, sosis, dan bakso) buatan Lek Nah (eh betul kan nama tantemu itu Lek Nah? Apa kabar beliau sekarang, Ta?).

Pernah juga suatu masa, ketika kita masuk sekolah pada siang hari, pagi harinya sering kita habiskan di rumah Lina. Main The Sims! Atau games komputer lainnya. Lalu, kita berangkat sekolah bersama naik angkot. Duh, masih banyak lagi aktivitas yang sering kita lakukan dulu. Komunikasi kita mulai banyak berkurang semasa kita putih-abu. Ya, aku dan kamu bersekolah jauh dari kedamaian Kota Rangkasbitung. Sementara Lina dan Nuke masih di kota kecil itu.

Tapi apalah makna jarak bagi sebuah persahabatan selain mencipta rasa yang paling tulus: rindu? Meski berbeda sekolah, kita masih sering berkumpul waktu liburan tiba. Setiap Hari Raya Idulfitri juga sebisa mungkin kita sempatkan bertemu untuk sekadar bersilaturahmi (juga mencicip kue Lebaran haha). Sungguh indah, menurutku.

Teman sebangkuku dulu yang kusayangi....
Aku tidak bermaksud mengajakmu kembali ke masa lalu (dan kita duduk sebangku lagi), betapapun lebih indahnya masa lalu itu kita rasakan daripada hidup yang kini kita jalani. 17 Maret 2014 menandakan 21 tahun telah berlalu dalam hidupmu. 21 tahun yang tentu tak melulu indah, di tengah banyak masalah yang kamu hadapi--yang sebagian besar di antaranya mungkin tidak pernah kuketahui.

Pada kesempatan ini, aku sebetulnya hanya ingin menyampaikan ucapan selamat ulang tahun buatmu. Juga harapan-harapan dan doa. Sebagian besar, aku yakin, adalah harapan dan doa yang sama yang juga diungkapkan banyak orang lain di sekitarmu.

21 tahun yang telah lalu, barangkali ada banyak yang kausesali, yang ingin kaukenang atau kaulupakan, tapi semoga kamu bersyukur telah dilahirkan ke dunia dan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Di titik ini, kamu mungkin masih punya puluhan tahun lagi di dunia, atau ratusan (siapa tahu?), entah berapa... tidak ada yang pernah tahu.

Di depan sana, mungkin akan ada lagi hal mengecewakan yang ingin kaulupakan, atau tindakan bodoh yang akan kausesali. Tetapi untuk apa khawatir. Hiduplah dengan syukur, dengan semangat berjuang. Kejarlah cita-citamu, jangan pernah menyerah. Orang-orang tersayangmu suatu saat mungkin akan pergi meninggalkanmu, tetapi percayalah kamu tidak akan pernah sendiri.

Selamat ulang tahun ke-21, Fitra Rahmawati. Semoga kamu bahagia dan mulia senantiasa.


Dini hari di Depok....
Selalu,
Rahmi

1 comment:

  1. Aaa amiii aku lg d bus dan terharu baca ini. Makasih ya sahabat cilik haha. Klo ketemu kita hrs masak2an lg nih

    ReplyDelete