Saturday, 1 February 2014

Me

This post is originally posted in a friend foe's blog, Muhammad Alifa Farhan. Check out original post here.

Rahmi Suci Ramadhani
Tulisan pesenan dari Rahmi yg minta ditulisin tentang dirinya :p

3 tahun lalu dia pernah nulis ttg saya di sini. Tulisan tentang Rahmi ini beneran jujur dan ditulis dengan sekali nulis jadi akan sejujur-jujurnya dan seadanya :D

Rahmi, seorang gadis desa dari Rangkasbitung Lebak, Banten yang saat ini sedang menjalani semester akhir di Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia. Rahmi adalah teman SMA, rival, enemy, pendengar curhat, dan juga sahabat saya!

Kita mulai dengan kedecerdasannya, Rahmi luar biasa cerdas! IQnya 137 kalo tidak salah, salah satu tertinggi di angkatan SMA saya. Hal ini yang membuat saya selalu terdorong untuk bersaing dengan dia terutama bidang akademis. Saat kelas X, kita bersaing untuk jadi juara kelas walaupun sama-sama gagal, bahkan nilai akhir kami sama, sama-sama ranking dua. Seri. Masuk kelas XI, kita terpisah jalur, Rahmi masuk IPS, saya masuk IPA. Tapi kami masih bersaing untuk jadi lulusan terbaik di bidang kami, saya dan Rahmi sama-sama jadi lulusan terbaik untuk IPA dan IPS. Seri lagi. Masuk kuliah, saya dan Rahmi sama-sama daftar jalur undangan untuk masuk Komunikasi UI, Rahmi diterima, saya tidak. Rahmi menang, Tapi ternyata jalur saya memang bukan bidang sosial, saya akhirnya ke ITB. Persaingan kami tidak lagi di jalur yang sama.

Rahmi cinta sekali dengan buku, list buku yang sudah saya baca jauh tertinggal dibanding list buku dia. Hobby yang jarang saya temukan disekitar pertemanan saya. Hobby ini mungkin yg buat dia tau banyak hal walau kadang suka sok tau :p 

Rahmi sering ga mau kalah, setidaknya ini yg terakhir saya tau. Setelah lulus SMA, pertemuan kami sangat jarang dan lebih sering via media sosial. Ini hal baik dan juga hal buruk, baik karena jadi selalu berusaha memberikan yang terbaik, buruk karena membuat terlihat egois.

Rahmi juga pendengar yang baik! Saat saya di Malaysia, teman di Indonesia yang sengaja saya hubungi adalah Rahmi. Selain teman diskusi yang seru dia juga pemberi nasihat yang baik (Walaupun anak 1993 yang selalu bangga dengan tahun kelahirannya ini jelas lebih muda dari saya). Saya cerita berbagai hal ke Rahmi, mulai dari Poltik sampai cinta, dari mimpi hingga sejarah. Saat saya mau mendekati perempuan untuk dijadikan pacar, Rahmi yang mendengar cerita saya. Saat saya baru saja putus cinta, Rahmi juga yang saya hubungi untuk bercerita dan mendengar nasihatnya. Rahmi adalah salah satu orang yang berperan penting buat saya melewati tahap after-broke-upsaya. Rahmi benar-benar teman cerita yang baik.

Rahmi selalu mengajarkan saya untuk “Do what you love!”, Saat SMA dengan nilai akademis dia yang begitu bagus, Rahmi memutuskan masuk IPS. Karena dia suka IPS, itu aja. Saat sekarang kuliah, Rahmi milih untuk jadi jurnalis yang harus terjun ke lapangan, dari masuk pasar bertemu pedagang cabai hingga bertemu preman Pulogadung. Walaupun di dunia komunikasi masih banyak pilihan untuk pekerjaan yang lebih ‘nyaman’, dia milih ini. Alasannya? Dia suka bidang ini dan dia akan berkarya dibidang yang dia suka. 

Kita janji, sepuluh tahun sejak kelulusan SMA, 19 Juni 2020, kita akan bertemu lagi dan membuktikan hasil persaingan kita yang ga akan pernah selesai.
Selamat tahun baru Rahminemy!
Semoga kita bisa jadi individu yang lebih baik tahun ini dan tentu punya gelar tambahan di akhir nama kita! 
"Kebahagiaan itu tersebar, menular. Kalau kita sendiri ga bahagia, gimana mau bikin orang lain bahagia" -Rahmi Suci Ramadhani

Thursday, 28 February 2013

A Birthday Gift

This post originally posted in a friend's blog. A very special birthday's gift from a very special friend of mine. Thank you so much, Widya 'Acul' Arifianti! You've got me speechless!

Setelah 26 Februari 2013

Setelah 26 Februari 2013, ada seorang perempuan yang genap dua dekade memperjuangkan mimpinya. Sejak dia menyadari bahwa dirinya adalah angan yang ditiupkan Tuhan lewat rahim ibunya. Mewujud menjadi realita. Seorang anak perempuan yang dinamai Rahmi Suci Ramadhani.

Ini bukanlah ucapan selamat ulang tahun, melainkan opini salah satu dari sekian banyak temannya. Jadi sebagai salah satu dari sekian banyak temannya, saya akan menceritakan sedikit-banyak tentang dia.
Tanpa bermaksud mempromosikan atau menaruhnya dalam kolom jodoh, saya merasa Ami, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang calon ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Pun calon istri yang baik untuk suaminya kelak karena sampai saat ini pun ia adalah seorang teman yang baik bagi siapapun yang mengenalnya.

Setiap kali ia melenggang di depan kami, teman-temannya pasti selalu memanggilnya. Untuk menyapa, sudah pasti. Setelah menyapa, pasti selalu bertanya. Tentang apapun, tetapi kebanyakan adalah tentang sesuatu yang belum pernah diketahui oleh teman-temannya itu. Singkat kata, Ami adalah seseorang yang memiliki banyak wawasan. Mungkin dulu sewaktu mengandung Ami, ibunya mengkhatamkan banyak ensiklopedia atau kamus.

Jadi, siapapun yang sekelas dengannya pasti berebutan ingin menjadi kawan kelompoknya dan siapapun yang terpilih menjadi kawan kelompoknya pastilah orang-orang paling beruntung di kelas. Karena Ami seorang, sukses nilai sekelompok.

Namun, pernah pada suatu kali. Saya melihat Ami meringkuk sendirian di sudut perpustakaan fakultas. Mengerjakan tugas kelompok yang seharusnya tidak ditanggungnya sendiri. Baru kali ini saya melihatnya mengeluh. Mungkin karena lelah. Tetapi saya lebih yakin dia mengeluh karena sedih teman-temannya tidak berusaha sekeras dia, tidak belajar sekeras dia sehingga pada akhirnya mungkin tidak mendapatkan nilai sebagus dia.

Setelah membaca beberapa paragraf tentang Ami, kalian yang membaca tulisan ini mungkin mengira bahwa Ami adalah seorang kutu buku yang sering meninggalkan napak tilas di setiap perpustakaan sampai mengorbankan aktivitas sosialnya. Maaf, kalian salah besar. Dia adalah kutu buku yang terbang melanglangbuana mencari teman juga pengalaman.

Di kampus, dia pernah aktif (bahkan sampai sekarang mungkin masih aktif) di beberapa organisasi kemahasiswaan. Bahkan memegang salah satu jabatan tinggi di organisasi tersebut. Tidak hanya memangku jabatan, saya merasa Ami juga mengemban tanggung jawab yang berarti. Kira-kira setahun, ia membuka dirinya untuk masalah-masalah kesejahteraan mahasiswa.

Di kampus saya, banyak yang repot berorasi sana-sini, menuntut pemerintah agar sedikit berpikir.
Banyak yang belingsatan sana-sini, mengurus kegiatan untuk berpesta pora
Banyak pula yang sibuk berlatih untuk ajang-ajang kompetisi

Dan Ami, adalah salah satu dari mahasiswa yang meluangkan waktunya untuk mereka. Para mahasiswa yang kesehariannya mungkin senang berorasi, mengurus kegiatan untuk berpesta pora, berlatih untuk ajang-ajang kompetisi, dan segala macam aktivitas lainnya, tetapi punya masalah serius yang bersifat pribadi dan sensitif: kesejahteraan.

Saya tidak tahu apa saja yang sudah Ami lakukan untuk itu. Tetapi setelah beberapa lama menghabiskan waktu setiap harinya bersama Ami, saya yakin bahwa Ami mencurahkan hampir seluruh tenaga dan waktu yang dimilikinya untuk itu. Dia jarang menolak untuk kebaikan.

Oleh karena itu, untuk segala hal yang telah diperjuangkannya, berhasil atau tidak. Saya, mewakili seluruh orang-orang yang pernah menikmati kemurahan hatinya, berterima kasih…

Pada Rahmi Suci Ramadhani, yang selama 20 tahun untuk senantiasa menebar kebaikan dan pengetahuan. Semoga terus berlanjut, setelah 26 Februari 2013 ini.
Pada kedua orangtuanya yang telah mengajarkannya untuk menebar senantiasa kebaikan dan pengetahuan.
Juga pada Tuhan, yang telah menghadirkan Rahmi di antara kami.
Terima kasih :)

Dan, meskipun saya tidak meniatkan tulisan ini sebagai ucapan selamat ulang tahun, saya ingin mengucapkan:
Selamat Ulang Tahun, Rahmi.


Jakarta, Setelah 26 Februari 2013

Monday, 11 February 2013

(Not) End of Story

Absolutely, it's not an end of story.
It's the beginning of another journey.

 
Photoshoped by: Galih Satrio Aji

Thank you, thank you for memories we shared, lessons we learned, loves we had.

See you, Family!

Thursday, 18 October 2012

A Girl-to-Date?

Woke up late (like usual) this morning. Came late (also, as usual) to the class. Sat down, spent the whole time in the class wandering in front of the screen and of course... pay no attention to the lecturer (Astaghfirullah :P)

Fortunately, the whole-class-time-wandering is not that wasted, I found a very interesting post from Kak Kinsi's tumblr. (and many other good posts)! I originally quoted one of the post from her tumblr. here :")

By Rosemary Urquico

“Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.
”
— Rosemary Urquico (via kblitz)

Tuesday, 28 June 2011

Astu: "Ada yang lebih tinggi dibanding cinta yang engkau pahami, Kashva."
Kashva: "Ada hal yang lebih tinggi dibanding cinta menurutmu?"
Astu: "Tanggung jawab. Tanggung jawab adalah perwujudan dari cinta yang seutuhnya."
dalam buku Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK