Monday, 16 May 2011

Cerita-cerita di Kereta (Bagian I)

Sebuah tas ransel hitam ukuran besar dan sebuah tas jinjing gratisan yang dapet dari seminar menemani saya meninggalkan rumah sore ini (eh, saya bukan mau kabur dari rumah loh ya!). Selepas salat ashar, setelah mengantongi izin dan doa dari kedua orang tua, saya pergi dari rumah (sekali lagi bukan buat kabur) menuju Stasiun Rangkasbitung. Waktunya kembali ke tanah perantauan, tempat mencari ilmu yang manfaat sebanyak-banyaknya, Depok.

Terakhir saya perhatikan, tidak banyak yang berubah dari Stasiun Rangkasbitung sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sana, jika tidak salah ingat mungkin sekitar sepuluh tahunan yang lalu saat pertama kali saya berkereta bersama orangtua menuju Jakarta waktu saya masih kecil. Gaya arsitektur khas Belanda pada zaman kolonial masih terlihat dengan jelas. Satu-satunya yang bergaya modern hanyalah loket pembelian tiket yang baru direnovasi bulan lalu. Sisanya masih sama, Belandasentris haha.

Stasiun Rangkasbitung selalu ramai dengan berbagai jenis manusia, ada pedagang, penumpang, petugas kereta api, sampai pencopet yang selalu menyimpan mata di setiap mereka yang lengah atas barang bawaannya. selalu terekam dalam ingatan saya, bagaimana pedagang-pedagang menawarkan barang dagangannya kepada setiap yang lewat "salak, Pak. Sepuluh rebu.. sepuluh rebu.." atau bagaimana ramainya keluarga yang akan naik kereta, si Anak yang berlari-lari senang sementara ibunya sibuk meneriakinya sambil membenarkan barang bawaan, sang Ayah malah sibuk ngobrol dengan orang di sampingnya. Atau mata liar si Pencopet yang mengawasi segerombolan anak muda yang asyik bercengkrama sambil memainkan handphone-nya. Suasana stasiun, yang sangat saya sukai. Entah mengapa.

Kembali ke cerita sore ini. Sore ini hujan gerimis di langit Kota Rangkasbitung, kota kelahiran saya. Kereta yang akan mengantarkan saya sampai ibu kota berangkat pukul 15.55 WIB begitu di jadwalnya. Biasanya sih telat, saya pikir. Makanya saya masih merasa biasa-biasa saja saat Bapak--yang akan mengantar saya menuju stasiun tidak kunjung datang, padahal ini sudah nyaris pukul empat. Akhirnya Bapak datang dan saya segera membonceng Bapak menuju stasiun. Tiba di stasiun saya lihat serangkaian kereta api masuk peron Stasiun Rangkasbitung. Oh, itu kereta yang akan saya tumpangi. Saya terlambat datang. Langsung saya pamit kepada Bapak dan memutuskan untuk segera naik ke atas kereta. Seperti biasa selalu berdesakan dengan penumpang lain yang juga akan naik. Maklum kereta ekonomi. Kebiasaan saya memperhatikan keadaan di stasiun sembari menunggu kereta datang tidak saya lakukan sore ini. Tentu saja. Membeli tiket pun bahkan saya tak sempat hahaha penumpang gelap.

Akhirnya, saya berhasil naik ke atas kereta. Dengan perjuangan dan peluh (berlebihan). Kereta ini tidak sepenuh biasanya, di mana lautan manusia berdesakan tak punya ruang gerak. Kereta patas sore ini jauh lebih kosong. Meskipun semua tempat duduk sudah terisi, namun tidak saya lihat seorang pun yang berdiri. saya berjalan menyusuri lorong kereta, mencari-cari jika mungkin masih ada kursi yang kosong. Ah ternyata tidak ada. Akhirnya saya putuskan untuk menyempil di antara penumpang lain yang sudah duduk haha. saya cari kursi yang kira-kira masih muat jika ditambah satu penumpang lagi (yaitu saya). Dan... dapat! Sebuah kursi yang telah diduduki dua orang remaja. Setelah permisi, mereka bergeser, saya diberi tempat untuk duduk. Di hadapan saya duduk seorang ibu-ibu setengah baya dan seorang pemuda (temannya si pemuda di samping saya) yang sedang merokok.Grrrr asap rokok yang tidak saya suka. Membuat sesak saja.

Tepat pukul empat kereta perlahan bergerak dan saya mulai ngantuk haha. Apalagi tidak ada teman mengobrol di perjalanan sore ini. Saya keluarkan buku dari dalam tas ransel saya, teringat ada tugas review. Mulailah saya membaca dan tanpa sadar saya terlelap. Oh ya ampun hahaha. Tidak lama saya tidur hanya lima menit mungkin, saya terbangun lagi karena kereta tak mau diam. ia terus bergoyang-goyang di atas rel (jangan membayangkan bergoyang chaiya-chaiya ala Briptu Norman ya haha). Sudahlah menyerah, saya tutup buku yang saya baca dan saya masukkan kembali ke dalam ransel. Sebagai gantinya saya keluarkan handphone saya dan langsung membuka aplikasi internet, mengakses situs jejaring sosial haha. Lama-lama bosan juga. Mungkin lebih baik tidur, saya pikir. karena perjalanan pun masih panjang.

Saya coba menutup mata, biasanya saya langsung terlelap loh haha. Tiba-tiba si pemuda di samping saya bersuara: "Ngantuk ya, Neng?" Gak juga sih, cuma pengen tidur aja. Tapi saya cuma jawab dengan senyum sekilas. Dari situ si pemuda dan dua temannya mulai bertanya. Awalnya sih simpel: "Mau kemana, Neng?" Ya saya jawab aja: "Tanah abang." Singkat. Eh terus nanya lagi "Kerja, Neng?". Jawab lagi dong: "Engga, kuliah." Dari situ ketiga pemuda (yang usianya lebih tua dari saya, saya yakin) diam sejenak. Bingung mungkin mau tanya apa lagi. Tidak lama, mereka mulai nanya-nanya lagi. Segala macem deh, nanya asal, kuliah di mana sampai akhirnya nanya nama. Dan sempet bilang juga: "Orang Rangkasbitung emang rata-rata cantik ya, Neng." (setelah mereka tau saya dari Rangkasbitung). HUAHAHAHA.

Salah satu hal yang saya kurang suka berkereta sendirian adalah seringkali ditanya-tanya gak jelas. Padahal cuma mau kenalan iseng doang. Huffffffh. Males kan diisengin. Kalau udah begitu biasanya saya sok-sok apatis aja, maenin hp lah. Pura-pura gak denger lah. Sok-sok merem tidur gitu. Pokoknya biar ga jawab pertanyaan gak pentingnya. Hehehe. Kadang berhasil, kadang juga engga. Ya yang penting udah usaha. hahaha.

Ohya, tapi ada satu hal menarik dari percakapan dengan pemuda iseng tadi sore. Mereka mengira saya bekerja (Oh setua itukah muka saya?). Untungnya alasannya bukan karena urusan muka haha. Seringkali saya ditanya seperti itu oleh sesama penumpang di kereta. Mereka sering bertanya "Kerja dimana?". Sekali lagi bukan karena muka loh. Hal tersebut bisa terjadi karena, rata-rata (bahkan sebagian besar) remaja di daerah saya yang umurnya kira-kira seperti saya sudah bekerja, mengadu nasib di ibu kota, umumnya sebagai penjaga toko atau sales. Jarang ditemukan remaja kaya saya, yang punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sangat jarang remaja asal daerah saya yang berkuliah. Kenapa? Apalagi alasannya kalau bukan masalah uang. Memang tidak bisa dipungkiri, tingkat pendidikan masyarakat di daerah saya (Kabupaten Lebak khusunya, Banten Selatan umumnya) masih sangat rendah. kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih sangat kurang. Selain itu akses terhadap pendidikan pun masih sangat terbatas. Lulus sampai jenjang SMA saja sudah dianggap luar biasa hebat di sana. Paling banyak yang hanya sampai menamatkan SMP. Makanya tidak heran jika daerah saya masih bertitel daerah tertinggal. Muncul satu motivasi bagi saya: saya harus kembali ke tanah saya lahir, dan membangunnya.

Hem, terus apa sih sesuatu yang suka saat berkereta? Pengamen! hahaha entah mengapa saya suka pengamen-pengamen di kereta (yang mungkin cuma bisa ditemukan di kereta ekonomi). Saya salut sama mereka, yang mengamen di atas kereta dari pagi hingga malam menjelang demi penghidupan mereka. Mereka bisa saja jadi seorang kriminal, pencopet misalnya. Tapi mereka memilih jadi pengamen. Lebih mulia menurut saya. Di atas kereta patas tadi sore, musisi kereta juga menghibur saya. Sekelompok musisi kereta menyanyikan lagu Radja yang berjudul Jujur hahaha. Dengan alat musik seadanya, mereka berhasil menyita perhatian saya loh. Ah, saya suka kalo ada pengamen di atas kereta hehe. Banyak hal unik yang saya suka di atas kereta ekonomi, saya suka memperhatikan karakter orang yang berbeda satu sama lain di atas kereta. Saya juga suka saat kondektur melubangi tiket saya (meskipun sore ini saya tidak beli tiket tapi bayar di atas kereta hehe).

Yaa... tak terasa, kereta patas ekonomi yang semakin renta dimakan usia, yang seakan tidak kuat lagi mengangkut penumpang yang semakin banyak jumlahnya ditambah pedagang yang makin banyak berlalu lalang, sampai di stasiun tujuan. Tanah ibu kota. Stasiun Tanah Abang. Saya turun dari kereta patas Rangkasbitung-Tanah Abang yang sudah mengantarkan saya dengan selamat hoho. Terima kasih kereta!

Masih ada satu perjalanan dengan kereta lagi di hari yang sudah beranjak malam ini. Tentunya masih ada cerita-cerita di kereta yang ingin saya tuliskan. See ya! :)

F-T-V

Kali ini pengen bahas tentang FTV alias Film Televisi!

Hahaha, entah kenapa di tengah sinetron tidak bermutu Indonesia yang menjamur, dengan cerita-cerita gak pentingnya yang bikin gue males nonton TV, gue gak pernah kehilangan selera buat nonton FTV di saluran nomor sembilan TV di rumah gue (re: SCTV). Cerita yang diangkat FTV memang yang ringan-ringan gitu, dan kadang lebay, isinya anak muda pacaran melulu, setting-nya kalau gak di Bali, Yogyakarta, ya Jakarta. Tapi gue suka nontonnya! Kadang ada juga kok pelajaran yang bisa diambil dari FTV itu hehehe.

FTV di SCTV tayang dua kali: pagi-pagi sama siang (kadang tiga kali, plus malam sekitar pukul 23). Jeda antara dua FTV adalah program berita. Jadi biasanya gue lanjut weh sehari nonton dua FTV hahaha :)) Barusan gue nonton FTV juga loh (bangga). Ada beberapa hal yang bikin gue suka FTV.

Yang pertama, emang sih ceritanya rada lebay gitu cuma itu realitas yang banyak terjadi di masyarakat, kadang gue juga ngerasain yang ditampilkan di film, jadinya kaya gue nonton diri gue sendiri. Terus, kalau FTV-nya udahan gue jadi berharap dapet ending kayak di FTV--yang selalu happy ending hahahaha (pardon my innocent). Kedua, gue suka tempat-tempat yang dipakai shooting-nya. Kadang shoot di tempat-tempat yang nunjukkin keindahan Indonesia gitu. Kan bagus tuh. Ketiga, gue suka pemainnya terutama yang cowok (#loh) haha enggak deng enggak~ Yang gue suka itu biasanya lagu latar (soundtrack) FTV-nya. Ada beberapa yang sering dipakai di beberapa episode sih. Dan entah kenapa gue suka dengarnya, mungkin karena divisualisasikan di ceritanya juga kali, ya?

Entahlah, gue juga suka aneh kenapa guue suka FTV. Go FTV! Hadirkan terus cerita-cerita ringan yang berkualitas yaa :)

Sunday, 15 May 2011

"Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same."
— Syerah S. (via softservevanillaicecream)
May 8, 2011

"God if someday I lost my hope, please tell me that Your plans are better than my dreams."
— myself 
May 13, 2011

"…karena pertukaran hati dan rasa selalu berawal dari pertukaran pikiran"
— Widya Arifianti
May 15, 2011

"You and me like two ships that passed during the storm. We had crossed each other, but we don’t make a signal, we don’t say any word, or maybe we don’t have anything to say."
— Adhina Mentari (Facebook status)
May 15, 2011

"Manusia tertawa untuk tiga hal: kebodohan kecil yang dia ciptakan, kesedihan yang ingin dia lupakan, dan hal-hal yang dia tidak begitu paham."
— Mentari Nadya (via Dinni Nurhayani)
May 15, 2011

Reposting the post from my Tumblr. :)

Saturday, 7 May 2011

Nasehat Kecil Orang Tua untuk Anaknya yang Berangkat Dewasa



Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi

April, 1965
Taufiq Ismail


Dari blog-nya Ratih :)

Alif



Ada beberapa “alif” yang memori otak saya simpan. Alif, huruf hijaiyah pertama. Alif, tokoh utama trilogi Negeri 5 Menara karya Achmad Fuadi. Juga Alif, nama beberapa orang teman di kampus. Tetapi ada satu “alif” yang saya paling saya ingat karena inspirasinya dalam hidup saya. Namanya Muhammad Alifa Farhan, dipanggil Alif.
Jika saya tidak salah ingat, Alif lahir di Bogor pada 3 September 1992, kurang dari setengah tahun lebih awal dari tanggal kelahiran saya. Saya tidak mengenal Alif sebelumnya sampai kami sama-sama menuntut ilmu di tanah Pandeglang, Banten. Alif berasal dari Cipondoh, Kota Tangerang dan saya berasal dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, dua daerah di Provinsi Banten yang cukup jauh jaraknya.
Lebih dari tiga tahun yang lalu pertama kali saya bertemu dengan Alif di kelas pertama kami di SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School. Pada saat itu, saya dan teman-teman baru di SMA sedang berkumpul untuk memilih ketua kelas. Alif terpilih menjadi ketua kelas. Waktu itu, saya adalah salah satu dari sejumlah orang yang memberikan suara untuknya. Jika mengingat alasan saya memilih Alif sebagai ketua kelas membuat saya ingin tertawa. Alasan saya simpel saja, saya menghargai orang yang menghargai waktu dan menurut saya memakai jam tangan adalah salah satu indikator seseorang menghargai waktu. Hanya asumsi sebenarnya, tapi asumsi yang saya yakini kebenarannya. Dari tiga calon yang mengajukan diri pada saat itu, hanya Alif yang memakai jam tangan.
Alif adalah siswa yang cerdas dan aktif. Bukan hanya di bidang akademik, Alif juga pandai di bidang olahraga. Dia punya kemampuan komunikasi dan jiwa kepemimpinan yang baik. Selama dua semester duduk di kelas yang sama, Alif adalah salah satu pesaing terberat saya dalam bidang akademik. Saya masih ingat bagaimana saya dan Alif berkompetisi untuk memperoleh peringkat pertama di kelas, meskipun akhirnya kami berdua sama-sama tidak mendapatkannya. Persaingan kami tidak berakhir di situ, naik ke tahun kedua di SMA kami memasuki kelas yang berbeda. Alif memilih jurusan IPA, sementara saya memilih jurusan IPS. Alif menantang saya untuk menjadi yang terbaik di bidang kami masing-masing dan lulusan terbaik angkatan kami. Tantangan yang menjadi motivasi bagi saya. 19 Juni 2010, hari kelulusan kami dari sekolah menengah atas. Utang kami terbayar, lunas. Kami sama-sama menjadi lulusan terbaik.
Dua hal yang tidak pernah lepas dari Alif, semenjak saya mengenalnya, adalah semangat yang menggebu-gebu dan motivasi yang tinggi. Alif adalah orang yang mempunyai mimpi yang besar dan punya cara sendiri untuk mewujudkannya. Darinya saya belajar bagaimana menjadi orang yang besar dengan mimpi yang besar untuk diwujudkan. Saya belajar menuliskan apa yang saya ingin capai dan berjuang mendapatkannya. Alif yang mengajarkan saya bahwa kita harus percaya pada potensi yang kita punya, membuat mimpi setinggi dan sebesar mungkin, dan yakin kita bisa meraihnya.
Universitas Indonesia, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Institut Teknologi Bandung. Alif diterima di keempat perguruan tinggi tersebut sebelum akhirnya memutuskan pilihan pada Institut Teknologi Bandung. Mahakarya dari perjuangan yang ia lakukan untuk melanjutkan pencapaian cita-citanya. Sepuluh tahun dari hari kelulusan SMA, 19 Juni 2020, adalah tantangan berikutnya, tanggal pertemuan kami untuk sama-sama membuktikan hasil perjuangan.
Hasil dari perjuangan kita sebenarnya akan dengan mudah digambarkan hanya dengan melihat seberapa besar perjuangan dan usaha kita untuk mendapatkannya. “Berapa harga yang ingin Anda bayar untuk mimpi-mimpi Anda?”
Kalimat pernah dikatakan Alif adalah alasan mengapa saya ingin menuliskan sedikit tentangnya. Karena ialah yang mengingatkan saya tentang nilai dari sebuah perjuangan. Tentang setiap tetes keringat yang akan selalu dibayar oleh Allah.*



Dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Penulisan, hahaha :)